Kritik Positivisme Berdasarkan Sains Sakral Seyyed Hossein Nasr

Item
Title
Kritik Positivisme Berdasarkan Sains Sakral Seyyed Hossein Nasr
Creator
Batoulizzakia
Date
2022
Publisher
STAI Sadra
Language
Bahasa Indonesia
Abstract
Manusia menghabiskan sepanjang waktu dari awal eksistensinya untuk mencari tahu apa itu realitas. Berbagai interpretasi dan pemikiran pun diluncurkan, namun pada akhirnya, jawabannya selalu variatif. Apa yang bisa manusia lakukan, meminjam istilah Popper, adalah bagaimana manusia dapat sedekat mungkin dengan kebenaran tersebut. Berbagai pemikiran yang diluncurkan pun variatif, mulai dari yang eksluksif hingga inklusif, juga terdapat yang paling terkenal dan yang paling banyak diterapkan hingga yang jangkauannya sama sekali sedikit. Positivisme dalam hal ini menjadi metode pengetahuan—dalam mencapai kebenaran—yang paling terkenal dari zaman modern. Hingga saat ini, hampir semua bidang keilmuan meliputi Positivisme dalam metodenya; sosiologi, psikologi modern, antropologi, hingga hukum. Namun, Positivisme justru menciptakan demarkasi dan meredefinisi tidak hanya terhadap apa yang ilmiah atau tidak, bahkan apa yang “bermakna” dan tidak. Berdasar pada prinsip verifikasi, Positivisme, khususnya Positivisme Logis—yang berperan dalam mempertahankan prinsip-prinsip tradisional Positivisme—menciptakan kepercayaan baru bahwa yang tidak bisa diobservasi dan diverifikasi adalah absurd, tidak bermakna dan non-ilmiah. Hal ini mengakibatkan seni, bahkan metafisika dikeluarkan dari kategori yang bermakna. Akibatnya, ilmu pengetahuan modern tidak lagi mempertimbangkan sisi yang sebetulnya dapat mencakupi ilmu pengetahuan tersebut secara holistik. Dalam perspektif Seyyed Hossein Nasr melalui teori Sains Sakralnya, penggunaan konsep Positivisme dalam keilmuan menciptakan reduksi masif terhadap subjektivitas, sistem moral hingga yang sakral. Padahal, hal-hal tersebut sangatlah besar signifikansinya dalam sejarah kehidupan umat manusia. Seyyed Hossein Nasr dalam hal ini memiliki perspektifnya tersendiri terhadap ilmu pengetahuan yang lebih inklusif dan tidak mereduksi elemen-elemen yang ada dalam ilmu pengetahuan. Kontras dengan konsep unifikasi ilmu pengetahuan oleh Positivisme yang justru reduksionis, Nasr mengungkapkan bahwa dalam melakukan integrasi justru harus melingkupi tiga aspek yaitu yakni keluasan (vastness), kesatuan (unity) dan pencerahan atau cahaya (light). Tanpa adanya tiga aspek ini, ilmu pengetahuan yang seharusnya membawa manusia pada yang Sakral dan lebih mengetahui Tuhannya, malah semakin jauh dari hal tersebut, ditandai dengan eksploitasi besar-besaran yang menyebabkan krisis alam.

Kata kunci: Positivisme, Sains Sakral, modernisme, tradisionalisme Islam, Positivisme Logis, Sains Barat Positivis, Seyyed Hossein Nasr.
Subject
Positivisme, Sains, Seyyed Hossein Nasr